Sehelai Rambut Dan Sandal Yang Raib

Posted: Juli 25, 2009 in Catatan Kampus
Tag:, , , ,

Satu Minggu yang lalu tepatnya. Saya dan seorang teman melaju menuju kampus tercinta, UIN Bandung. Karena merasa kita belum sarapan pagi, kami memutuskan untuk rehat sejenak di PUJASERA (Pusat Jajanan Serba Ada). Di sana pun kami memilih Kantin yang kira-kira memang langganan kami sebelumnya. Ya, kantin Gado-gado biasa kami menyebutnya. Kami pun memesan makanan kesukaan kami. Saya lebih memesan Lontong Kari, sedangkan teman saya memesan Gado-gado kesukaannya.

Karena saya memesan Lontong Kari, jadinya, saya tidak menikmati Lontong itu di tempat saya memesan. Saya kemudian pindah menuju di mana teman saya memesan Gado-gado. Setelah semuanya siap, kami melahap makanan yang kami pesan. Di tengah-tengah saya sedang menikmati Lontong Kari saya, saya agak terkejut dengan sebuah benda hitam kecil yang mencoba menghiasi Piring Lontong saya. Setelah menimbang, memerhatikan, dan seterusnya, saya berksimpulan, bahwa benda hitam kecil itu bernama”Sehelai Rambut”. Ya, tidak salah lagi, itu adalah Rambut asli buatan Tuhan.

Setelah saya memergoki Rambut yang ada di Piring saya, awalnya, saya tidak ingin melanjutkan sarapan saya. Kenapa? Tidak apa-apa. Cuma, saya sedikit risih dengan benda hitam yang ikut berenang dalam kubangan kuah Lontong itu. Sebelumnya memang, saya tidak pernah mengizinkan dia untuk andil dalam acara saya. Saya pun heran dan tidak tahu, dari mana dia datang? Inginnya, saya marah waktu itu. Tapi, tak mungkin juga saya marah-marah di hadapan benda mati. Bagaimana pun saya marah, benda hitam itu tak mungkin hengkang dengan sendirinya tanpa saya angkat dengan tangan saya sendiri. Bisakah Anda membetulkan pernyataan saya?

Perdebatan antara Hati dan ego pun tak kalah sengitnya waktu itu. Melanjutkan makan Lontongnya, atau berhenti makan Lontong dan meminta ganti yang baru dan tanpa ditambah bumbu sebagaimana halnya Rambut tadi. Ketika itu, ego saya lah yang lebih kuat menggoda. Tapi akhirnya, meski ego lebih kuat, Hati sayalah yang lebih berpengaruh saat itu. Hati saya mengatakan,”Ambillah benda itu, kamu jangan mempersulit diri, setelah itu, lanjutkan makannya. Dan, kamu harus percaya, bahwa benda itu tidak membawa apa-apa yang membahayakan. Percaya lah juga dengan Tuhan, apapun yang terjadi, Perutmu lah yang mengatur. Sekarang, laksanakan apa kata Hatimu” Begitulah kira-kira wejangan yang membuat saya luluh dan melanjutkan menikmati Lontongnya.

Tak ada yang mengetahui sama sekali diskusi saya dengan Hati saya. Kecuali Tuhan, benda hitam itu, dan Lontong seorang diri. Teman saya pun, yang duduk bersebelahan dengan saya, ia tidak tahu apa yang telah saya alami. Seandainya saja ia tahu apa yang terjadi dengan saya, saya lebih yakin, teman saya tadi pasti sarannya sama dengan ego saya. Mengganti yang baru makanan itu. Karena saya tahu, bahwa salah satu sifat manusia adalah sering kali mendahulukan ego ketimbang hati.

Di tengah-tengah asik-masyuk kami menikmati Lontong dan Gado-gado, kami dikejutkan oleh seorang pedagang Kantin yang mengomel sekaligus mengoceh dengan apa yang baru ia alami. Wah, nampaknya ia sedikit kebingungan. O, iya, yang mencoba mengomel itu adalah seorang ibu. Umurnya, diperkirakan 50 tahunan. Saya tidak tahu, siapa nama ibu itu. Yang kami tahu, dia hanyalah seorang ibu penjual Gado-gado. Saya masih ingat sekali apa diocehkan ibu ketika itu.”Naha…Sendal, teh bisa leungitnya! Kakarage dua poe geus leungit deui. Dasar-dasar!” (Kenapa,ya, Sandal kok bisa hilang! Baru saja dua hari, sudah hilang lagi. Dasar-dasar!) Itu kira-kira pesan yang saya tangkap dari hasil nguping saya.

Beberapa detik pun berlalu. Karena saya merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada ibu itu, saya kemudian mengungkapkan sesuatu yang memang ingin ditanggapai oleh ibu yang baru saja kehilangan Sandal kesayangannya.”Kenapa,Bu? Sandalnya hilang,ya? Dimana? Ibu itu pun langsung menanggapi apa yang saya tanyakan. Bahwa, ia baru saja salat Di masjid Iqomah, dan ketika hendak keluar, ia mendapati Sandalnya sudah raib alias dimakan Syetan yang tak bertanggung jawab.

Saya tidak punya kesimpulan atas apa yang telah saya alami hari itu. Yang ada hanya sebuah keprihatinan. Tidak di lingkungan PUJASERA maupuan di lingkungan masjid Iqomah. Di lingkungan Iqomah, misalnya, saya ikut punya pengalaman pahit apa yang dialami teman saya beberapa bulan lalu. Apa pasal? Sandal dan Sepatunya hilang. Ya, sudah lah, itu hanya ocehan semata tidak berpretensi lain. Mungkin.

rambut

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s