Mimpi Ke-8

Posted: Juli 25, 2009 in Mimpi-mimpiku
Tag:, , , , , ,

Aku bertemu Ahmad (teman lamaku yang kini berada di Majalaya). Ketika aku menemuinya, ia tak memakai baju. Tapi hanya menggunakan celana merah SD. Aku menemuinya di sebuah Dapur atau Pawon. Aku menyalaminya, ia pun tersenyum. Setelah prosesi salaman selesai, aku bertanya padanya perihal pernikahannya yang baru saja dilangsungkan beberapa minggu ke belakang.”Gimana, lancar,Mad? Kataku bermaksud menanyakan keadaannya setelah nikah. Ahmad pun menjawabnya dengan seuntai senyum.

Setelah Ahmad memberikan jawaban singkat itu, aku kemudian ke ruang tengah dari rumah Ahmad tadi. Di ruang tengah itu, aku mendapati seorang wanita, yang diketahui, ternyata dia adalah teman lamaku ketika di MAN Model. Ia kini sedang menempuh kuliah S1-nya di Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB). Jurusan Biologi. Namanya, Apriani. Ketika aku melihatnya, ia kebetulan sedang tidak berjilbab. Maka, terlihatlah helai-helai rambutnya yang hitam. Aku pun langsung menyapanya dan mengatakan,”Halo,Ni?” Sambil tanganku kujulurkan pertanda ingin memberi salam. Ia pun hanya tersenyum dan membalas uluran tanganku.

Lalu, aku masuk ke sebuah kamar dengan tujuan mengambil Handuk. Setelah aku mendapatkan Handuknya, tiba-tiba Apriani ingin merebut Handuk itu dari kekuasaanku. Aku mencoba menghindar darinya dengan maksud agar Handuk yang aku pegang tidak direbutnya. Tapi, ia terus mengikutiku. Selanjutnya, aku memberikan pengertian padanya, bahwa bila ia menginginkan Handuknya, biarkan aku mandi terlebuh dahulu. Ia pun menyetujui apa maksudku.

Aku lalu pergi ke belakang Dapur. Tak ada tujuan lain aku ke sana selain ingin segera mandi. Belum sampai aku ke tempat mandi, aku memergoki adikku, Abdurrahman, sedang mandi. Aku pun menunggunya. Di tengah-tengah kebosananku menunggu, pandangan mataku kulemparkan ke arah depan. Semuanya hamparan sawah yang tak luput dari Padi-padinya. Suara air yang mencoba mengaliri sawah-sawah itu, aku juga ikut mendengarnya. Aku tidak tahu, di mana itu berada.

Upacara mandi yang dilakukan adikku pun usai. Ketika adikku beranjak dari tempat mandi itu, ia tak bersuara sama sekali, meski, jelas-jelas, dengan tidak sadar, ia telah melihat kakaknya, aku. Lagi-lagi, aku pun heran, kenapa adikku itu tidak sama sekali tersenyum. Aku ini kan kakaknya! Ada apa dengannya? Beribu tanya hinggap dan bersarang di kepalaku. Biarlah kataku sesaat kemudian.

Ia hilang dari pandanganku, aku pun menduduki tempat mandi. Di tempat mandi yang berukuran kecil itu, aku mendapatkan benda semacam kain. Warnanya Hijau, ada tali putih-panjang di sudut-sudutnya. Aku menyangka bahwa kain inilah yang barusan dipakai adikku mandi. Maksudnya untuk kain “basahan”. Tak lama aku berpikir, aku langsung memakai kain Hijau tadi dengan maksud melindungi aurat sekaligus urat-uratku. Dengan perlahan, kupakai Centong untuk menciduk air, lalu kuguyur tubuh keringku. Basah lah semuanya.

Entah disadari atau tidak, waktu itu, aku menciduk air ternyata dari anak sungai yang bersebelahan dengan sawah-sawah tadi. Aku tidak tahu, lupa yang jelas, berapa kali aku menciduk air di situ. Beberapa kali menciduk, memang air terasa jernih. Setelah itu, tanpa disadari, air itu berubah warna menjadi kecoklatan. Tapi, anehnya, airnya tidak mengeluarkan bau. Karena air yang ada di depanku telah berubah warna, aku kemudian berbalik. Nah, di sana ada air mengalir dari sebuah Pipa berukuran Tangan orang dewasa. Jernih sekali. Aku tampung air yang jernih tadi dengan Centongku. Aku tumpahkan ke seluruh badanku. Ehm…aku menemukan keanehan setelah air membuyar di tubuhku. Terlihat, di sekujur tubuhku berserakan sampah kecil dan butiran-butiran nasi. Setelah aku perhatikan dengan seksama dan dalam tempo yang cepat, ternyata, air yang mengalir dari Pipa itu adalah air limbah bekas mencuci piring. Aku tertipu kali ini. Benar saja, ketika pandanganku kuarahkan ke depan di mana Pipa itu berada, di sana terlihat seorang wanita sedang cuci Piring. Wah…pantesan….kataku. Aku melihatnya dengan jelas, ia pakai baju putih. Yang jelas, ia bukan Apriani.

Merasa badanku penuh sampah kecil dan buliran nasi, aku langsung berdiri dan berjalan ke arah kanan. Di sana aku mendapatkan Kolam. Ada yang jernih, ada juga yang keruh. Lalu, kuciduk air yang jernih beberapa kali sampai kotoran yang ada di tubuhku benar-benar musnah. Ya, sekali lagi, cerita aneh hanya ada dalam mimpi.

Iklan
Komentar
  1. kamisama berkata:

    mimpi trus….g cape tuh..ketemu tuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s