Membaca Sambil Nge-bom

Posted: Juli 25, 2009 in Motivasi
Tag:, , , , , ,

Bila kita masih merasa bingung, dimanakah tempat yang paling nyaman, enjoy,enak, serta refresentatif untuk membaca, maka saya, kalau boleh, akan mengajukan semacam referensi di manakah tempat yang nyaman untuk membaca. Tempat itu ialah sebuah tempat di mana kita sangat sering mengunjunginya. Terutama pada pagi hari menjelang subuh. Ya, tempat itu adalah Water Closed (WC). Kenapa mesti WC? Kenapa harus tempat yang banyak dihuni Syetan dan Jin?

Saya pun akhirnya, berani mengatakan tidak tahu! Entah lah. Tapi itu kan pendapat saya. Saya tentunya bebas,dong berpendapat? Saya kira tak ada larangan untuk sekedar mengeluarkan unek-unek di negara yang sangat bebas ini, terutama semenjak bergulirnya reformasi. Apapun, siapapun, kapan pun, dan bagaimanapun, orang bisa mengeluarkan pendapat. Tentunya, selagi itu fakta dan bisa dipertanggungjawabkan. Meski, terkadang, ada sebagian dari kita yang menulis tentang fakta, pada akhirnya ia pun masuk fakta. Masuk Terali Besi. Hanya gara-gara menulis!

Nah, dalam tulisan yang sangat sederhana ini pun, saya ingin berbagi pengalaman. Tentunya, apa yang saya alami dan saya rasakan. Saya tidak berharap kepada pembaca semua, untuk mengikuti apa yang saya alami dan rasakan. Tidak sama sekali. Karena, saya kira, pembaca pun punya pendapat berbeda dari apa yang saya tuliskan. Atau mungkin, pembaca semua, bahkan membantah habis-habisan pendapat saya. Itu pun silakan, mumpung belum ada larangan. Bila sudah ada larangan, tertutup bagi Anda untuk membantah tulisan saya.

Apa yang telah saya sampaikan pada paragraf pertama memang betul adanya. Dan, itu menurut pendapat saya.Tapi, bukan berarti tempat selain yang saya sebutkan tidak enjoy, enak, atau refresentatif. Sama sekali tidak. Sekali lagi, saya hanya ingin berbagi tentang apa yang saya alami mengenai dunia membaca. Ya, baiklah, saya adalah seorang pembaca yang selalu memanfaatkan WC sebagai tempat berselancar bersama puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kata-kata. Sebenarnya, kalau mau jujur, perilaku saya ini sering mendapat ejekan dari teman-teman satu kos.”Ih, ke WC kok bawa buku” Begitu kira-kira bentuk keirian mereka pada saya. Saya pun hanya tersenyum, dan tak menanggapinya dengan kata-kata.

Jujur saja, bagi saya, WC adalah tempat paling nyaman untuk sekedar membaca. Tapi, saya pun tahu etika, bahwa buku yang saya bawa ke WC tentunya bukan sebuah buku yang kira-kira disakralkan lah. Atau buku yang didalamnya tidak berisi firman Tuhan. Bacaan yang saya bawa ke WC adalah semacam Novel, Cerpen, Essei, Artikel, Anekdot, dan bukan buku atau majalah yang kira-kira mengundang syahwat. Playboy, misalnya. Ya, betapa asyik membaca di sana. Tenang. Tak ada yang mengganggu. Lumayan, dua, tiga, empat, dan lima lembar buku terlewati. Itung-itung menambah kosa kata baru.

Apakah setiap WC yang saya kunjungi, saya membaca di sana? Tentu saja tidak. Karena, saya pun memilah-milah mana kira-kira WC yang pantas untuk saya membaca. WC yang jorok, tentu saja saya menghindarinya dari membawa buku. Hanya WC yang berfasilitas lah yang saya kunjungi. Selain itu, WC yang bisa saya ajak kompromi. Mungkin, menurut Anda, bahwa pendapat atau pengalaman saya ini amat jorok dan kurang diterima. Itu pun dipersilakan. Saya tidak pernah memaksa. Katanya, memaksa itu amat menyakitkan!

Tapi, bagi saya, WC adalah tempat yang tidak terbantahkan lagi untuk sarana membaca. Saya lebih menikmatinya di sana ketimbang di kamar. Di kamar itu ribut, kurang tenang dan banyak gangguannya. Misalnya saja, ketika saya di kamar, baru saja membuka buku Filsafat umum atau filsafat ilmu, ada saja godaannya. Seorang tetangga kamar tiba-tiba datang dan mencoba membuyarkan konsentrasi saya yang sedang tenggelam dalam lautan filsafat.”wah, mau jadi Filsuf,ya? Baca terus,nih!” Ucapnya sedikit menggoda. Saya kan rada-rada gimana….gitu. GR yang ada. Bahkan malu . Mungkin, itu juga salah satu sifat saya, saya kurang setuju dengan pujian.

Setelah ia memberikan komentar atas apa yang sedang saya lakukan, saya kemudian diam sejenak. Berpikir apa yang harus saya katakan untuk membalas atas perhatinnya pada saya. Akhirnya, tak banyak yang saya lakukan terhadapnya, kecuali sesungging senyum. Itung-itung shadaqah untuk hari ini, pikir saya. Karena memang, jika mengandalkan materi, saya tak punya cukup uang untuk sekedar shadaqah. Jadilah seuntai senyum saja yang saya sumbangkan. Lumayan.

Yah, untuk mencari tempat yang tenang, dan kebetulan waktu itu saya juga belum menabung. Langsung saja, ambil buku dan tak lupa mengunci kamar, saya melangkah menuju WC. Sampai di WC, prosesi ekskresi dan membaca dilakukan. Asyik,kan? Dua pekerjaan terlalui dalam satu waktu. Aman. Tidak ada yang mencoba menggangu atau memuji barangkali. Yang ada, Cuma suara-suara tetesan air Kran serta suara Bom berjatuhan. Bom yang dijatuhkan kan pun tak sebahaya seperti di J.W. Marriott. Mari mencoba membuktikan.

Iklan
Komentar
  1. jerzz berkata:

    visit my blog again
    http://jerzz.wordpress.com/
    http://blackercomputerz.wordpress.com/
    jika ingin tukeran link konfirmasi di blog saya y…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s