Awan Hitam Di Pesantren

Posted: Juli 25, 2009 in Cerpenku
Tag:, , , , , , , ,

Suasana di kota santri memang sangat menakjubkan sekaligus mengharukan. Disebut menakjubkan, karena hampir sebagian santrinya, ketika hendak tidur, mereka (terutama yang cewek), tidak mengenakan kain sehelai pun. Kecuali BH yang menutupi dua puting payudaranya. Menurut ustadzah yang bertanggung jawab mengurus asrama putri, sebut saja ibu Ida. Bahwa, para santriwati tidak mengenakan sehelai lembar pun ketika tidur (kecuali BH), karena pengaruh cuaca di sekitar pesantren. Kalau tetap dipakai, maka seisi pesantren akan mengalami banjir. Banjir itu berasal dari keringat para santriwati. Oleh karena itulah, dengan kebijakan Mudir pesantren dan atas izin Menteri agama, maka untuk selamanya, selagi belum kiamat, para santriwati dibiarkan tidur telanjang. Termasuk para ustadzah-ustadzahnya.

Dengan alasan itu, maka semua santriwati pun merasa senang dan terasa hidup tanpa beban. Enam bulan kemudian, para santri itu pun dinyatakan hamil. Setelah diperiksa di balai kesehatan pondok pesantren, bahwa ternyata, isi yang ada di dalam kandungan para santriwati bukanlah bayi manusia. Tetapi semuanya berisi bayi kambing. Betapa terkejutnya para santriwati itu. Hingga akhirnya, mereka mau mengaku setelah didesak oleh seorang ustad. Ustad itu hanya memberikan satu pertanyaan kepada para santriwati.” Siapa yang telah berbuat demikian?” Kata sang ustad dengan tegas.

Para santriwati pun dengan tidak ragu menjawab serentak.” Yang membuat kami seperti ini adalah hasil perbuatan para santri, pak ustad!” Ucap mereka dengan nada menyesal. Sang ustad pun akhirnya terdiam dan tertunduk melihat ke lantai dengan rasa sesal dan ingin sekali marah. Namun ia tak kuasa untuk melaksanakannya. Karena tak pantas seorang ustad marah-marah, hanya karena para santrinya tega berbuat tak senonoh terhadap santriwati. Beberapa menit kemudian, ustad itu bangkit dan mulai membuka mulut.” Dengan sangat menyesal, setelah ini, kalian terpaksa harus menggugurkan bayi kambing yang ada di perut kalian. Setelah itu, kalian diperbolehkan tidak nyantri di pondok ini!” Ujar sang ustad geram.

Ruang Balai Kesehatan itu tiba-tiba berubah hening. Seperti baru saja ada kabar kematian. Hampa dan pahit. Secara mengejutkan, dari sebelah pojok ada suara lantang.” Pak ustad, afwan sebelumnya, kalau perkataan saya ini tidak pantas, atau membantah apa kata ustad. Begini, pak ustad, kami di sini semuanya telah bersepakat, bahwa kami tidak akan menggugurkan bayi kami. Meskipun bayi ini berisi anak kambing, tapi kami ingin, bayi kambing nanti terlahir dengan selamat. Jadi, tolong, ya ustad! Ok, setelah ini kami langsung keluar dari pondok ini,” Ucap santriwati yang diketahui bernama Siti itu.

Mendengar sedikit argumen dari santrinya, ustad itu pun berlinang air mata. Sapu tangan yang ada di kantong celananya, dirogohnya. Perlahan, diusapkannya ke muka. Tapi, matanya masih memerah. Ia tertunduk, meski sambil berdiri. Dengan sesenggukan khas seorang lelaki, nampak dari raut muka sang ustad ada yang ingin disampaikan untuk santriwatinya yang terlanjur durhaka itu. Benar saja, beberapa detik berlalu, tatapan mata ustad mulai fokus pada apa yang ada dihadapannya.”Maafkan kata-kata ustad tadi yang terlanjur ustad ucapkan. Tadi hanyalah emosi ustad. Apapun mau kalian, lakukanlah. Ustad hanya bisa berdoa, agar kalian diampuni dosanya. Dan jangan sekali-kali berbuat yang demikian lagi. Kalau itu terjadi lagi, jangan salahkan ustad, jika yang ada di perut kalian berisi kepala kucing!” Kata ustad dengan nada mengancam.

Siang telah menunjukkan pukul 11.30 waktu pondok pesantren (WPP). Para santri yang lain sedang bersiap-siap untuk menunaikan salat Dhuhur. Sedangkan di ruang Balai Kesehatan, sang ustad dan para santriwati yang melanggar, tidak menyadari bahwa sebentar lagi akan dikumandangkan adzan. Di ruangan Balai Kesehatan itu pun tak ada jam dinding. Ustad pun tak punya jam tangan. Begitu pun dengan santriwatinya. Yang ada di ruangan itu sekarang hanyalah sebuah penyesalan, amarah, dan perasaan berdosa. Dari Toa yang ada di atas menara masjid pondok, mulai terdengar panggilan ilahi. “Ashaduannamuhammadarrosullulah”. Tapi panggilan penuh spiritual itu hanya bak angin lewat saja oleh penghuni Balai Kesehatan. Mereka sudah enggan dengan kegiatan spiritual yang biasa dilakukan. Bisa jadi, mereka akan menganggap percuma jika itu dilakukan lagi. Karena selama ini pun, mereka rajin salat, puasa, tilawah quran, mendengarkan tausiah dari ustad, dan juga salat berjamaah di masjid. Tapi tetap saja, perbuatan para santri-santriwati semakin terlihat bejad. Itu dibuktikan dengan adanya para santriwati yang hamil di luar nikah. Bahkan yang lebih aneh dan tak masuk akal, bayi yang dikandung bukanlah bayi manusia, melainkan bayi kambing. Naudzubillah summa naudzubillah.

Suara adzan yang tadi menggema seantero Ma’had, kini telah tiada. Suara itu tertelan udara yang berseliweran di sekitar pondok. Kini, yang ada hanyalah suara-suara dzikir setelah salat yang dipimpin oleh sang pimpinan pesantren. Setelah dzikir dan do’a usai, kini giliran para santri makan siang bersama. Tapi sebelum itu, mereka dibudayakan antri terlebih dahulu. Sambil antri, para santri diwajibkan membawa kutaibun. Yang di dalamnya berisi mufradat bahasa Arab maupun bahasa Inggris. “qoroa-yaqrou, kataba-yaktubu, mathbakhun, ka’kun…” Begitulah celoteh sebagian santri sambil giliran mengambil nasi. Itu dilakukan hampir setiap hari. Jadi, wajar saja mereka pandai dalam berbahasa Arab dan Inggris.

Waktu Dhuhur pun akan segera habis. Ashar pun bersambut beberapa menit lagi. Di ruang Balai Kesehatan, tak ada perbincangan apapun. Kecuali perbincangan kehampaan. Begitu pula sang ustad, ia hanya termangu seribu bahasa memikirkan nasib para santriwatinya yang sebentar lagi akan beranjak dari pesantren. Bukan hanya itu yang ada dipikiran ustad, tapi nanti, bagaimana tanggapan orang tua, masyarakat, setelah santriwatinya dinyatakan diusir dari pondok. Kini, wajah-wajah di ruangan itu diselimuti awan gelap serta kebingungan mendalam. Satu sisi, para santriwati yang hamil, menolak untuk digugurkan. Pada sisi yang lain, sang ustad malah memerintahkan untuk segera menggugurkan bayi yang ada dalam rahim santriwati. Meskipun akhirnya ustad itu luluh oleh salah satu permintaan sang murid.

“Sekarang, silakan kalian semua, setelah ini bersiap-siap, ambil barang-barang kalian. Setelah itu, kembali lagi ke ruang ini,” Kalimat itu akhirnya meluncur dari sang ustad setelah berlama-lama di ruang meja hijau ala santri. Dua puluh santriwati itu pun, perlahan bergerak, sekujur tubuhnya terlihat rona lelah. Tangan-tangan mereka sambil memegang perut-perut mereka yang buncit. Ada rasa kasihan, iba, mampir pada diri sang ustad. Terkadang pun, rasa kasian dan iba itu luluh oleh rasa kebencian serta penyesalan.

Ruangan itu, kini dihuni oleh jejak-jejak, bau khas santriwati, dan ustad seorang diri. Tiba-tiba, terlintas di otak ustad, bahwa ia tadi belum sempat salat Dhuhur. Pikiran itu datang menjelang beberapa menit lagi waktu Ashar . Tanpa berpikir panjang, ia masuki ruang kamar mandi yang ada di ruangan itu. Baru saja kaki kiri menapak di bibir kamar mandi, entah mengapa, suara Muadzin menyelinap ke ruangan itu tanpa seizin sang ustad. “Brengsek!! Sudah ashar lagi!” Kata-kata itu pun akhirnya membuncah dari mulut suci sang ustad. Tak ada kata lanjutan untuk menetralisir kata pertama. Yang ada hanyalah umpatan-umpatan pada yang mencoba melantunkan adzan. Untuk selanjutnya, sang ustad pun urung melanjutkan wudhunya. Ia berpikir, kalau dhuhur saja ditinggalkan, maka salat yang yang lain tak perlu dilaksanakan. Ibaratnya, ada seseorang yang akan menghubungi temannya dengan menggunakan telepon genggam, atau yang lainnya. Ada satu saja nomor yang tidak terpijit, maka tidak akan nyambung kepada tujuan. Begitupun dengan salat, jika ada lima waktu salat, dan salah satunya ditinggalkan, maka salatnya tertolak.

Pikiran itu pun terus menggelayut pada sang ustad. Terus berkecamuk. Hingga akhirnya, ada sebuah ketukan pintu, pertanda para santriwati telah datang kembali. “Assalamualaikum….” Ucap salah seorang santriwati. Tak ada jawaban. Hening. Hingga tiga kali diucapkan salam. Dengan terpaksa, para santriwati itu merangsek masuk ke ruangan Balai Kesehatan. “Masyaallah Ustad…astagfirullah..!!” Ucapan para santriwati itu sepontan. Dengan diiringi teriakan khas kaum feminin. Tak dibayangkan sebelumnya, ternyata sang ustad sedang berbuat yang semestinya dilakukan bukan di tempat ini. Tapi di tempat pribadi. Bersama pasangan pribadi pula. Ia pun kini terlanjur malu. Karena terlanjur malu itulah, sang ustad meneruskan hajatnya dengan suka cita tanpa mengetahui kalau para santriwatinya telah memergokinya.

Perilaku sang ustad memang sudah kelewat batas. Sebanyak dua puluh santriwati yang ada di ruangan itu, akhirnya pingsan seketika. Sang ustad pun mengakhiri dunia kenikmatannya. Lalu, diusirnya dengan lembut teman hidupnya. Lalu, ustad itu pun memeriksa satu per satu wajah para santriwati yang dinyatakan pingsan. Layaknya seperti Dokter. Beberapa menit kemudian, dengan serentak, yang tadinya pingsan, kini telah sadar kembali. Mereka kini dalam keadaan duduk. Ustad pun sangat terkejut dan salah tingkah. Ia pura-pura langsung beranjak ke Toilet. Dan,”Brakkk…!” Pintu WC itu dibantingnya dengan tanpa perasaan. Lama sang ustad berada di WC. Kira-kira setengah jam, ustad pun keluar dari kamar mandi dalam keadaan sehat tanpa kurang dari suatu apapun.

“Ustad, kemana aja…?” Lima orang santrinya menjejalinya dengan pertanyaan. Sang ustad hanya disinggahi kebingungan plus salah tingkah. Lama tak menjawab pertanyaan para santri, ustad itu akhirnya, tanpa ada sedikit pun basa-basi, keluar ruangan Balai Kesehatan dengan meninggalkan suara pintu yang tak bersahabat. “Brak….”. Pintu terbanting. Kedua puluh santriwati itu pun melongo hampir berbarengan seolah telah direncanakan. Tapi ternyata tidak, Ia hanya sebuah spontanitas. Spontanitas yang dibuat oleh kesalahan mereka. Oleh Tuhan mereka. Dan Tuhan lah yang mengetahui nasibnya kemudian.

Mata para santriwati terus mengikuti gerak sang ustad hingga ustad itu hilang ditelan udara. Entah kemana. Apakah ia bosan dengan urusan yang sedang ditanggungnya. Atau ia bahkan ingin bunuh diri. Betapa bodohnya sang ustad jika itu terjadi. Gelar ”ustad” akan pudar seketika. Dan ustad-ustad yang lain, atau calon ustad akan lebih hati-hati dalam bertindak.

Bersambung….

Iklan
Komentar
  1. Abah Teddy berkata:

    diantos sambunganna..
    manawi aya maksad, kanggo séring, babagi inpormasi ngeunaan ki sunda, ogé badé janten panulis carpon sunda di blog Sunda Kuring, sumangga diantos.
    hatur nuhun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s