Menelusuri Karya KH. Anwar di Majalengka; Sebuah Tinjauan Filologis

Posted: Juni 16, 2009 in Semacam Budaya
Tag:, , , ,


Pengantar menuju Filologi

Ada banyak cara untuk mengetahui warisan kebudayaan atau warisan sastra yang terdapat di berbagai belahan dunia. Salah satu pendekatan yang biasa dipakai untuk meneliti sebagaimana yang dimaksud adalah menggunakan pendekatan filologis. Pendekatan ini menitikberatkan pada naskah dan teks sebagai objek kajian. Filologi dikenal sebagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan karya masa lampau yang berupa tulisan (Baroroh Baried). Disiplin ilmu ini muncul sejak abad ke-3 SM yang dicetuskan oleh Eratosthenes, karena adanya problem pembacaan terhadap karya-karya peninggalan Yunani kuno sekitar abad ke-8 SM, yang diakibatkan oleh adanya berbagai persoalan berupa hilangnya beberapa bagian naskah, bahasa yang sudah berbeda konvensinya, tulisan tidak jelas lagi karena dimakan usia, adanya beberapa naskah hasil kopian yang bervariasi, dan berbagai persoalan pembacaan lain yang muncul akibat tuanya naskah.

Filologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata,dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Sedangkan filologis bisa diartikan mengenai atau berdasarkan,secara filologi. Sementara itu, menurut Sudardi (2001:1) pengertian filologi adalah suatu disiplin ilmu yang meneliti secara mendalam naskah-naskah klasik dan kandungannya.

Jadi, menurut penulis, filologi yaitu ilmu yang mempelajari naskah disertai pembahasan dan penyelidikan kebudayaan bangsa berdasarkan naskah klasik. Dari naskah klasik itulah orang dapat mengetahui latar belakang kehidupan masyarakat pada zaman lampau. Misalnya, adat istiadat, agama, kesenian, bahasa, pendidikan, dan sebagainya.

Karena kajian filologi ini objeknya adalah naskah dan teks, maka penulis ingin memaparkan sedikit pengertian keduanya. Naskah adalah karangan yang masih ditulis dengan tangan. Sedangkan menurut Ikram (1994:3) adalah wujud fisik dari teks. Tulisan-tulisan pada kertas disebut naskah, dalam bahasa Inggris naskah disebut manuscript, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut handschrift (Djamaris 1990;11).

Naskah-naskah yang menjadi objek material penelitian filologi adalah naskah yang ditulis pada kulit kayu, bambu, lontar, dan kertas. Kemudian pengertian teks menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah naskah yang berupa kata-kata asli dari pengarang; kutipan dari kitab suci untuk pangkal ajaran atau alasan; bahan tertulis untuk dasar memberikan pelajaran, berpidato, dan sebagainya. Sebagai perbandingan, ada lagi pengertian teks menurut Lubis (2001;30), teks adalah kandungan atau isi naskah. Teks terdiri dari isi dan bentuk. Isi teks mengandung ide-ide atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Di dalam proses penurunannya, secara garis besar dapat disebutkan ada tiga macam teks yaitu; teks lisan, teks tulisan, dan teks cetakan.

Biasanya, naskah-naskah yang ada disimpan di beberapa tempat. Diantaranya perpustakaan dan musium. Baik dalam negeri maupun luar negeri. Tetapi masih ada sebagian naskah lainnya tersimpan melalui perseorangan atau koleksi pribadi.  Jadi, naskah adalah hasil tulisan tangan yang berwujud fisik dan di dalamnya mengandung nilai-nilai, sedangkan teks adalah isi dari naskah yang di dalamnya mengandung amanat.

Sekelumit penulis, penyimpan, dan tempat Naskah

Penelitian yang penulis lakukan memakan waktu dari mulai pukul 16.30-19.00 WIB (sabtu,31 Mei 2009). Atau tepatnya selama kurang lebih tiga jam setengah. Waktu yang singkat itu penulis gunakan sebaik mungkin untuk menggali informasi tentang keberadaan naskah tersebut. Pemilik naskah tersebut adalah seorang Kiyai yang belakangan merupakan salah Satu keturunan dari si penulis naskah. Atau lebih tepatnya, keturunan ke tiga dari garis ibu. Kiyai itu bernama KH. Tarmidzi Asfari. Beliau juga merupakan pimpinan pondok pesantren Asasul Huda. Yang beralamat di kampung Ranji. Jalan pesantren Gang KH. Subki, blok Sabtu desa Ranji Wetan, kecamatan Dawuan, kabupaten Majalengka. Sedangkan penulis naskah yang naskahnya diteliti oleh penulis adalah KH. Anwar.

Menurut KH. Tarmidzi Asfari, KH. Anwar diperkirakan hidup pada tahun 1850-an. Beliau merupakan ulama yang terkenal di seantero Majalengka. Bahkan, menjadi rujukan para kiyai lain yang ada di Majalengka. Juga pernah menjadi penasihat keagamaan untuk pemerintah daerah Majalengka pada saat itu.

Saking terkenal dan kharismatiknya, beliau mempunyai murid, yang belakangan murid tersebut adalah salah satu pendiri organisasi islam yang sedang berkembang saat ini. Organisasi itu bernama Persatuan Umat Islam. Yang kemudian disingkat menjadi PUI. Muridnya itu diketahui bernama lengkap KH. Abdul Halim. Lahir pada tanggal 26 Juni 1887 di sebuah desa bernama Cibolerang, kecamatan Jatiwangi, kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Indonesia.

Penulis naskah itu, KH. Anwar, semasa hidupnya, banyak menulis karya. Diantara karya beliau yang sempat penulis jumpai berjumlah tiga kitab; kitab Fiqih, kitab Tauhid, dan kitab Tata Bahasa Arab atau Nahwu Sharaf. Namun, penulis dalam hal ini berhasil meneliti kitab Fiqih saja. Karena kitab Tauhid dan Tata Bahasa Arab kebetulan sudah diteliti oleh dua rekan penulis sebelumnya.

Semacam Deskripsi Singkat Naskah

Setelah penulis berbincang bersama KH. Tarmidzi Asfari tentang sekilas siapa penulis naskah, kini saatnya penulis memaparkan keadaan, kondisi, serta ukuran naskah yang penulis teliti. Dalam hal ini kitab Fiqihnya. Menurut pemaparan pimpinan pesantren Asasul Huda, atau KH. Tarmidzi Asfari, bahwa naskah yang penulis teliti kira-kira sudah berumur 161 tahun. Bisa dibayangkan, mahakarya itu sampai kini masih ada. Maka pantas saja kalau kitab Fiqih ini disebut sebagai naskah kuno.

Naskah fiqih ini mempunyai 217 halaman. Dengan panjang naskah; 30×21,5 cm. Panjang teks; 19,5×12 cm, dan ketebalannya mencapai 4 cm. Dan ternyata, setelah penulis membuka naskah lembar demi lembar, tidak semua halamannya berisi tulisan. Tapi ada sebagian halaman yang belum ditulis atau halaman itu kosong. Cuma berisi bintik-bintik hitam kecoklatan.

Setelah dihitung dengan cermat, penulis berkesimpulan bahwa untuk halaman 208-211, halaman itu tanpa tulisan. Atau utuh tanpa huruf-huruf. Kemudian untuk halaman selanjutnya, yakni 212-217, itu berisi penuh tulisan. Belum diketahui pasti, kenapa penulis naskah itu mengosongkan sebagian halaman naskah. Perlu diketahui juga, bahwa pada halaman 130, terdapat sobekan naskah, tepat di tengah teks.

Naskah yang diteliti penulis, huruf yang digunakan adalah huruf Arab. Yang sebagian teksnya, dilogat ke dalam bahasa Jawa Cirebon. Dan sebagian yang lain tidak diterjemahkan,melainkan utuh berbahasa Arab. Tinta yang digunakan didominasi oleh tinta hitam. Sedikit saja yang menggunakan tinta merah. Tinta merah hanya digunakan pada akhir bab.

Naskah ini pun tidak diketahui kapan waktu ditulisnya. Yang jelas umur naskah ini sudah 161 tahun. Penomeran halaman pun tidak ada. Begitu pun dengan kuras. Setelah mencoba dihitung, ternyata kurasnya saling berdempet, dan utuh. Penulis hanya berkesimpulan bahwa kuras naskah ini tidak terhitung.

Pena yang digunakan untuk menulis naskah, menurut KH. Tarmidzi, menggunakan Kalam Harupat Kawung. Dan menggunakan Mangsi (tinta) yang terbuat dari beras ketan hitam disangrai ( digoreng tanpa menggunakan minyak di atas tungku panas) kemudian ditumbuk. Setelah jadi, kemudian dituliskan di atas kertas Daluang yang terbuat dari pohon Saih. Katanya juga, pohon Saih ini, sampai sekarang masih dilestarikan di sekitar pesantren Asasul Huda.

Oleh karena naskah ini kondisinya sudah sedikit lapuk, bolong-bolong, dan ada bau menyengat yang tak sedap. Baunya persis seperti bau Kecoak. Inilah mungkin karena kurangnya perawatan yang intensive oleh pihak pemilik. Menurut pemilik naskah, dalam hal ini KH. Tarmidzi Asfari, bahwa selama ini naskah itu hanya di letakkan di atas lemari yang lebih tinggi, karena menghormati kitab itu sebagai ilmu.

Beliau menambahkan, bahwa kitab itu hanya dipakai atau dibaca ketika haul atau ulang tahun pondok pesantren. Selain hari itu, kitab itu hanya tergeletak di atas lemari. Dia(pemilik naskah) pun kembali bercerita bahwa beberapa bulan yang lalu, ketika rame dibicarakan tentang fatwa haram rokok, kitab itu pun kembali dibahas dalam Bahtsul Masail. Beliau beralasan, bahwa kitab itu mengandung banyak dalil yang kuat dan masih relevan hingga saat ini.

Isi naskah

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, setelah penulis baca dan pahami apa yang terdapat di dalam naskah tersebut, ternyata naskah yang penulis teliti berisi tentang Fiqih. Perinciannya kira-kira sebagai berikut; Dimulai dari halaman 4-11 (kitab Thaharah), halaman 11-12 (kitab Haid), halaman 12-33 (kitab Salat), halaman 33-44 (kitab Jenazah), halaman 44-48 (kitab Shaum), halaman 48-49 (kitab I’tikaf), halaman 49-57 (kitab Haji), halaman 58-83 (kitab Jual-beli), dan yang terakhir, yang menurut penulis paling panjang adalah kitab nikah. Yaitu dari halaman 83-217.

Itu mungkin sedikit pemaparan yang bisa penulis sampaikan. Segala kekurangan dan kelebihan mohon kiranya dimaklumi. Hanya saran yang konstruktif dan tentunya membangun yang penulis harapkan.

Referensi :

Jurnal Adabiyyat Vol. II No.2 Juli 2003 Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tim Penyusun Kamus. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

http://www.google.com/filologi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s