Weak up

Posted: Juni 15, 2009 in CATHAR
Tag:

Siang itu, kira-kira satu jam sebelum adzan Dhuhur dikumandangkan. Aku tidur  lelap di atas dua kasur. Kaos Mosart melekat pada tubuhku. Ponselku ada di samping telingaku, dan treningku pun ikut membalut tubuhku. Di tengah kelelapan tidurku, datang sesosok laki-laki. Aku tidak sadar ia telah berada di kamarku. Laki-laki itu mengenakan kaos merah jambu. Berkacamata, berambut lurus, juga celana jeans ikut menyertai aksesoris tubuhnya. Ditambah sebuah tas warna hitam kebiruan ditentengnya. Tak lupa, laki-laki itu pakai sepatu. Dan siapa sebenarnya laki-laki yang datang ke kamarku itu? Aku pun tidak tahu, siapa dia? Mungkin pembaca tahu, siapa, sih laki-laki itu? Atau anda sendiri laki-laki misterius itu?

Laki-laki itu memandangiku.”Oh..ternyata masih tidur juga,” Kata lelaki itu di hatinya. Laki-laki itu kemudian duduk bersila. Di tangannya sebuah ponsel warna hitam. Bentuknya tipis kayak kue lapis. Bermerek fren. Berkartu esia. Hatinya ingin sekali miscall ponselku, dengan tujuan membangunkan aku. Namun, itu hanyalah khayalan belaka laki-laki misterius. Karena sudah seminggu, kartu kesayangannya, esia, belum diisi pulsa. Aku hanya bisa mengatakan,”how poor you”

Karen laki-laki itu sudah kehabisan akal, bagaimana caranya membangunkan aku yang masih tidur, akhirnya hatinya kesal. Munculah pikiran negatif yang mengungkung otaknya. Lelaki itu tidak tahu, aku tidur lelap karena kecapean, sejak pagi membereskan kamar.
Tidak ada pilihan lain, laki-laki misterius itu beranjak keluar kamarku, dan pintu kamarku dibantingnya dengan keras. Tumpahan kekesalan dan emosi itulah yang menyebabkan pintu kamarku, yang tak punya salah, dibanting. Apa sebenarnya salah pintu itu? Kok pintu? Bukan aku yang dibanting supaya bangun?

Setelah kejadian pembantingan yang menyebabkan beberapa binatang sock dan terkejut, bahkan jatuh ke lantai, laki-laki itu ternyata panjang akal. Perlahan ia melangkahkan kedua kakinya, dan sandal imutku pun dipakainya. Langkah demi langkah sampailah lelaki itu di persimpangan ojek jl. Cipadung. Bingung, cemberut, menyelimuti lelaki itu.

Tangannya mulai merogoh saku celana jeansnya. Beberapa uang receh ia keluarkan. “ Ini saatnya untuk membangunkan si penidur itu,” Lorohnya dalam hati. Diangkatnya gagang telepon denga tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memasukkan uang koin seratus ke lubang itu. Dipencetlah nomor tujuan. Kalau tidak salah, nomor itu, nomor simpati; 081320964607. Tut..tut..,”Kok gak diangkat,sih!” Ujar lelaki itu.
Satu, dua, tiga koin, telepon yang dituju tidak juga diangkat. Akhirnya, lelaki muda itu mengakhiri berdiri belama-lama di depan telepon koin. Semakin bingung dan cemberut. Dan aku suka dengan tingkah itu. Lucu, gemes, ingin rasanya aku mencubit. Tapi tak mungkin, karena aku sedang berlayar ke pulau kapuk sambil bermimpi  indah.

Ia memutuskan untuk kembali ke kamarku. Langkahnya dipercepat sambil sesekali lirik kanan dan kiri menuju sebuah gang tempatku berada. Kira-kira lima menit sebelum  membuka pintu besi kosku, aku sudah bangun dari tidurku. Aku terkejut, melihat sebuah tas tergeletak di depan radioku. Radio kesayanganku, yang selalu menghibur dikala duka, lara menimpaku. O..tas lelaki itu..,” Ujarku. Tapi, mana dia? Ku mencoba melihat ke luar kamar. Tidak ada seseorang. Kuteruskan langkahku menuju kamar mandi, sekedar cuci muka. Agar terlihat segar, cerah, dan bersahaja.

Aku keluar dari kamar mandi. Diteruskan berdiri di hadapan kaca berukuran besar untuk memeriksa sebagian tubuhku. Yang kulihat pertama kali adalah mukaku. Siapa tahu di pinggir bola mataku, ada sesuatu yang membuat risih. Bukan hanya risih buatku, tapi orang lain yang melihatku. Setelah diteliti, ditimang, akhirnya, diputuskan bahwa aku, mukaku, terbebas dari kotoran.

Ketika tubuhku berbalik ingin menuju kamarku, kupergoki lelaki tadi, sedang mendorong pintu besi kosku. Dan menutupnya kembali pintu itu. Dengan tidak basa-basi, aku langsung melayangkan sebuah senyuman persahabatan, dan bertanya apa kabar. Tapi, lelaki berkaos merah jambu itu membalasnya dengan diam dan cemberut. Mungkin kesal denganku.

Aku pun  masuk kamarku. Lelaki itu mengikuti di belakang. Yang tadinya cemberut, lelaki misterius itu tiba-tiba merekahkan senyum. Aku pun membalasnya. Dan diteruskan dengan tertawa, candaan menyinggung, humor, dan banyak lagi.
Sehabis salat Dhuhur, kami pun akhirnya meluncur ke Kalapa. Dengan menggunakan bis Damri AC. Tujuannya, sekedar jalan-jalan menghilangkan kepenatan dan mencari pengalaman baru.

Itulah cerita yang bisa aku suguhkan pada kesempatan pagi jum’at diawal Juni 2007 ini. Cerita ini bukan fiktif. Tapi kenyataan. Dan mohon maaf kepada para pembaca, jika cerita di atas ada penambahan-penambahan yang seharusnya tidak disampaikan. Namun, itulah aku. Aku hanya berlatih menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Dan aku bertekad akan terus menulis apa adanya, semampuku, seingatku.

Pada akhirnya, aku pun menyadari. Banyak kesalahan, kekeliruan dalam tulisanku. Baik itu dalam struktur kalimat, dan lainnya. Dan kepada pembaca, jika peduli terhadapku, proteslah tulisanku. Saran yang tidak menyinggung, terbuka lebar buatku. Tapi, jika pembaca hanya diam, aku pun menyesal..
Awal Juni 07. Ba’da Fajar. The Beginning Of Writer. Aku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s