SD dan Semangka

Posted: Juni 7, 2009 in CATHAR
Tag:, , , ,

Kehidupan masa kecil  bagi saya adalah saat-saat yang indah sekaligus menegangkan, terutama ketika saya menginjak bangku SD. Banyak kenangan yang sulit dilupakan, karena saya adalah pemeran utama dan teman-teman yang lain sebagai pemeran pembantu. Masih terukir dalam benak saya waktu itu, ya tepat sepulang dari sekolah. Waktu itu saya masih kelas tiga SD, waktu dimana saya lagi imut-imutnya dan lucu-lucunya. Pokoknya seru deh. Waktu dimana saya sedang berada di zaman jahiliyah. Salah satu ciri atau bentuk kejahiliyahan saya waktu itu adalah saya sering maling buah-buahan di kebun tetangga.

Siang itu, sekitar pukul 11 waktu desa Sukamakmur (nama sebuah desa dimana saya tinggal), saya berniat mencari kayu bakar hasil ultimatum Ema karena persediaan kayu bakar di belakang pawon mulai berkurang atau tepatnya hanya beberapa butir lagi. Dengan membawa sebilah bedog (parang) dan seutas tali, saya mulai memasuki sedikit semak belukar mencari, memotong serta mengikat kayu-kayu kering yang siap dilahap api dapur. Setengah jam kemudian, saya pun berhasil mengumpulkan banyak kayu. Dari ukuran betis dewasa sampai betis bayi berumur satu tahun. Serta tak lupa mengambil barangbang ( daun kelapa yang sudah kering) untuk mempermudah menyalakan api dapur.

Selanjutnya, setelah saya kumpulkan dan diikat dengan rapi, saya letakkan terlebih dahulu di bawah sebuah pohon yang begitu menjulang gagah yang hampir saja merogoh langit. Apak sering menyebut pohon kayu itu”albiso”. Sepertinya asal muasal pohon itu dari daratan Arab, karena memakai kata”al”. Apak banyak menanam pohon itu, disekeliling pekarangan hampir penuh olehnya. Selain sebagai bahan bangunan, juga untuk bahan kertas. Karena itulah Apak masih menjaga habitatnya hingga kini.

Setelah kayu-kayu dan barangbang tersandar pohon menjulang itu, kemudian saya pun meliriknya sejenak dan meninggalkannya. Saya menyusuri semak kebun dengan sedikit mengendap-endap. Nyamuk kebun terus mengikuti  alur perjalanan saya, hingga tangan dan daerah telinga  saya terkena gigitan manisnya. Saking manisnya, hinggga bagian yang tersentuh sungutnya meninggalkan jejak merah. Sesekali saya pun berhasil mengeksekusi binatang jalang yang tak tahu diri itu. Tapi tetap, satu dieksekusi, handai taulan yang lain malah semakin banyak dan mulai menyerang dari berbagai arah. Akhirnya saya pun berani mengambil langkah tegas. Kecepatan berjalan saya dipercepat menjadi yang tidak biasa sehingga insekta yang lain beterbangan.

Semak belukar sekarang berada di belakang saya. Saya mencoba menoleh, mengingat masa lalu yang kelam bersama nyamuk, yang hampir saja mereka mengeksekusi saya. Tapi, saya lah ternyata yang harus mengeksekusi  diantara mereka. Meski hanya Satu. Itu pun saya harus berjuang keras, berjibaku serta pertengkaran batin. Batin saya mengatakan,”membunuh nyamuk merupakan suatu perbuatan dzolim dan menyebabkan kamu tidak masuk surga.” Sedang para nyamuk punya retorika lain,” kami hanyalah menjalankan tugas dari yang mencipta kami, agar dalam setiap kesempatan, kami berhasil mengganggu kamu. Disinilah Tuhan menguji kamu, sabar atau malah mencaci kami, bahkan kamu mencoba eksekusi kami.”

Lama saya mengingat itu, tak terasa sinar matahari sudah berada lurus dengan tubuh saya. Adzan dhuhur bersahut dari masjid sebelah RT saya, meski masih memakai tenaga diesel. Panggilan untuk mengingat-Nya itu, berangsur-angsur tak terdengar lagi. saya pun sekarang sudah berada di kebun pak Sanusi. Kebunnya bersebelahan dengan kebun Apak, dibatasi oleh susukan(sungai kecil). Pak Sanusi matanya sudah tak melihat atau bahasa yang lebih halus, tunanetra. saya pun sedikit iba dengan kekurangan pak Sanusi. Ia juga dikenal sebagai imam dan khotib di desa saya. Apak pun tak ketinggalan kalah pamornya,kok.

Kebun itu sekarang ranum oleh buah-buah semangka. Sedang saya berada di tengah-tengahnya. Pikiran saya terus berkecamuk, saya mengambil semangka-semangka itu tanpa meminta izin terlebih dahulu, atau saya meninggalkan kebun tanpa membawa semangka. Lama termenung, saya pun berfikir, selama hidup, saya belum pernah merasakan buah semangka. Selama ini hanya banyak mendengar dari saudara dan tetangga, yang katanya buah semangka itu manis,segar rasanya. Saya pun perlu pembuktian. Mungkin saat inilah, selangkah lagi menuju pembuktian.

Dengan sedikit tergesa, cucuran keringat, serta dag-dig-dug, saya mulai memetik buah semangka sebanyak dua buah. kedua bola mata saya bergerak ke  kanan-kiri sambil badan sedikit merunduk . Bergerak pelan, pelan dan memperkencang lari saya. Saya pun sampai pada sebuah pohon dimana saya meletakkan kayu bakar. Dengan nafas yang tak teratur dan keringat yang membasahi tubuh, saya letakkan dua buah semangka tadi tepat di samping tumpukan kayu bakar. Saya membuka baju yang melekat di tubuh. Wah, sedikit segar. Karena diterpa angin kebun tanpa dicampuri bau-bau pabrik ataupun asap-asap kuda besi.

Keringat yang mengaliri tubuh saya sudah mulai hilang. Saya melirik ke sebelah, tergoda oleh lonjongnya buah semangka. Sebilah parang pun saya angkat, dan kemudian membelah keperawanannya. Berwarna merah di dalamnya, serta biji-bijinya yang menyembul membuat saya semakin bernafsu melahapnya. Satu semangka habis. Waktu dhuhur pun entah kemana.

Langit di sekitar rumah saya mulai redup. Sekarang ,menunjukkan pukul 15.30 sore. Biasanya yang saya lakukan adalah mengunjungi rumah seorang teman. Rumah itu jaraknya lumayan jauh, sekitar 300 meter dari tempat saya.”Cep, tolong apak dulu,ya menanam pisang. Kemarin lubangnya sudah dibuat, tingggal kasih pupuk dan mencari anak pisang,” Begitu suara apak ketika saya hendak bergegas ke rumah teman. Sapaan bernada perintah itu akhirnya meluluhkan hati dan niat saya untuk bermain.

“Ya, siap!” kataku tanpa ragu sambil melangkah menuju dapur untuk mengambil sebuah alat yang biasa dipakai mencongkel anak pisang. Saya kemudian menyusuri sisi-sisi sawah yang ditanami pohon pisang. Satu, dua, tiga, empat dan lima anak pisang berhasil saya dapatkan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s