Kususuri Embun Pagi

Posted: Desember 25, 2008 in Cerpenku
Tag:, ,

Setelah salat subuh berjamaah di kamar bersama seorang sahabat, berdzikir sejenak. Mengingat-ingat kesalahan kemarin. Tadarus beberapa ayat ilahi. Sungguh tenang kurasakan hati ini. kalau saja ini terus berlanjut, rasanya Aku terasa merdeka. Soalnya, ini hanya kurasakan ketika keimananku mulai menebal beberapa hari ini.

Sarung dan koko yang sedari tadi bertengger di badanku, kini kulepaskan, berganti dengan baju kaos hitam dan celana switer. Tak lupa kupasang kaos kaki dan sepatunya. Kini Aku bersiap keluar kos jalan-jalan menghirup udara pagi. Pagi ini memang di sepanjang jalan kususuri terlihat lengang, sepi. Tapi kesepian itu hilang. Benar-benar hilang oleh rasukan dinginnya pagi. Ingin rasanya Aku kembali ke kamar dan menimbunkan selimut ke badanku. Tapi itu tak mungkin, karena aku sudah di pertengahan tujuan. Alun-alun Ujung Berung.

Kabut dan tusukan-tusukan udara terus kutembus, kususuri. Meskipun kadang terlihat debu beterbangan di kanan kiriku. Debu tersapu oleh lalu lalang kendaraan yang lewat. Mana lajunya kencang lagi. Mentang-mentang masih pagi menjalankan kendaraan sangenahna wae. Memang jalan siapa itu. Celotehku, tentunya dalam hati.

Wah, kini sudah mulai terang. Cepat juga ya, Kataku. Karena Aku sudah sampai Columbia dan Borma. Berarti beberapa langkah lagi akan sampai, dan istirahat. Sedikit meregangkan otot kaki.

Di kanan-kiri jalan para pedagang tumpah ruah menjajakan dagangannya, sehingga  terkadang membuat macet arus kendaraan. Dan membuat sedikit riweh bapak Polantas mengatur lalu lintas. Kewajiban kali ?! Tapi ini terjadi tiap pagi. Macet tiap pagi. Sampai bosan Aku melihatnya. Apakah pemerintah tak menyiapkan lapak untuk mereka, padahal mana janji para elit pejabat yang baru saja dilantik. Katanya menyejahterakan padagang. Buktinya, padagang masih saja berjualan bukan pada arealnya. Lalu, yang dibikin subuk siapa ? satpol PP juga kan ? pemerintah juga kan ?

Tak terasa langkahku sampai di depan sebuah gedung yang di depannya terpampang beberapa iklan film yang akan diputar hari ini. Iklan paling kiri terpampang ” laskar pelangi “, tengah ” ML “, dan paling pinggir tidak begitu terlihat karena sedikit tersingkap. Aku diam sejenak. Apa itu ” ML ” yang terpampang dalam judul film itu, arti yang sesungguhnya dalam bahasa Inggris sih Aku sedikit mengerti. Tapi, dalam judul film itu apa ya, kok ML sih. Ah, itu mungkin sebagian trik Sutradara supaya mengecoh penonton atau yang ingin nonton. Masih mendingan ” Laskar Pelangi “, Aku dah baca bukunya. Seru. Nonton filmnya pun sudah. Karena Aku lebih suka film yang inspiratif  seperti laskar Pelangi.

Jalanan masih tetap seperti semula. Macet. Tapi Aku tak hiraukan itu, kini Aku sudah sampai pada pemberhentian terakhir. Alun-alun, tepatnya di selasar masjid Agung. Duduk Aku disana sambil memegang koran yang sedang Aku baca. Konon, koran yang sedang Aku lahap ini lebih tau Jawa Barat. Beritanya akurat. Selain itu, ada rubrik yang Aku suka yaitu ” Kampus “. Karena statusku sekarang sebagai Mahasiswa. Aku suka nulis untuk rubrik ini. Tapi belum juga dimuat. Tak apalah, mungkin redakturnya menyuruh Aku untuk jangan berputus asa. Terus lah menulis, katanya.

Bosan dengan berita-berita korupsi- hingga, konon, mantan pejabat Jawa Barat terseret juga ke KPK. Sudah enak kembali enek. Aku ke tempat wudhu. Kuambil butiran air suci untuk bersuci. Aku teringat sebuah sabda Nabi ” Berwudhulah, karena dengan wudhu itu berguguranlah dosa-dosamu “.

Lalu kupasang kaos kaki dan sepatu. Bersiap-siap untuk kembali ke kos. Karena tumpukan tugas mulai menggunung. Tanpa dikerjakan sedikit demi sedikit, mustahil sebuah tugas yang menggunung akan selesai. Itulah prinsipku, mulai dari yang terkecil.

Tepat pukul 8.00 Aku sampai di kos. Suara tembang Sunda terdengar olehku sehingga Aku teringat sebuah desa dimana Aku dilahirkan. Tembang itu berasal dari sebelah kamar kosku. Ada walimahan. Melaksanakan sunnah Rasul. Karena, siapa saja yang mencintai sunnahku, menikahlah. Tidak menikah, bukan umatku. Begitulah perkataan Rasul yang kudapat dari tausiah ustadku beberapa minggu lalu.

” Ayo ke warnet,” celetuk seorang sahabat dekatku. ” Kita nge-Blog, asyik lho, beberapa tulisanku banyak yang komentar,” lanjutnya lagi. ” Siap, ” kataku membalas. Sembari menunggu seorang sahabat yang lagi khusuk menabung Di Wc, kebetulan waktu Dhuha, Aku pun sejenak dalam dhuha. Meminta hidayah dari yang maha pemberi hidayah, agar Aku dan seorang sahabat tetap istiqomah berada dalam lingkarannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s