Aku Berfikir Aku Menulis

Jangan titik, karena masih koma

Mimpi Ke-8

Aku bertemu Ahmad (teman lamaku yang kini berada di Majalaya). Ketika aku menemuinya, ia tak memakai baju. Tapi hanya menggunakan celana merah SD. Aku menemuinya di sebuah Dapur atau Pawon. Aku menyalaminya, ia pun tersenyum. Setelah prosesi salaman selesai, aku bertanya padanya perihal pernikahannya yang baru saja dilangsungkan beberapa minggu ke belakang.”Gimana, lancar,Mad? Kataku bermaksud menanyakan keadaannya setelah nikah. Ahmad pun menjawabnya dengan seuntai senyum.
Baca entri selengkapnya »

Mimpi Ke-7

Aku dijanjikan dapat pekerjaan pada semester 7. Selain memang semester tujuh aku hanya ada 4 Matakuliah. Aku pun menerimanya, meski agak berat sebenarnya. Berat, karena memang ini adalah pekerjaan yang butuh kerja keras, kerja cerdas berikut harus PD. Tanpa disertai ke-PD-an, dan keberanian untuk melakukannya, sulit bagiku mendapatkan apa yang aku harapkan.

Baca entri selengkapnya »

Mimpi Ke-6

Aku tak tahu persis di mana tempat itu. Yang jelas, ketika itu mereka berwudhu di sebuah Surau kumuh. Setelah itu, mereka salat. Nah, sebelum salat, salah satu dari mereka, aku mengenalinya. Namanya, Rida. Sekarang dia sedang menempuh S1-nya di STAIN Bengkulu, jurusan Bimbingan Konsling Islam. Adiknya pun ada menyertainya. Aku tak tahu namanya. Kalau tidak salah, adiknya itu mengenakan pakaian Pramuka. Adik Rida dan teman-temannya datang ke Surau itu agak terlambat. Keterlambatannya karena harus sekolah terlebih dahulu. Mereka sekolah di MAN Model, jurusan IPA.

Baca entri selengkapnya »

Mimpi Ke-5

Waktu itu, aku dan semua teman sekelas sedang berada di sebuah ruangan. Sebagian teman yang lain sedang mengerjakan soal PPKN. Sedangkan aku, aku sudah mengerjakannya minggu yang lalu. Soalnya banyak sekali, sekitar seratus soal. Soal-soal itu ditulis di kertas minyak. Teman-temanku itu, mengerjakannya bareng-bareng dan saling contek. Melihat tingkah mereka, aku hanya tertawa sambil sesekali bercanda dengan teman sebangku. Guru yang mengawasi pada saat itu adalah seorang guruku juga ketika di MAN Model. Pak Abu namanya. Ia mengajar ekonomi. Tapi, pada kejadian ini, pak Abu mengajar PPKN.

Mimpi Ke-4

“Fifi senangnya buku apa kalo baca?” Saya mencoba membuka pertanyaan ketika saya sedang bermain ke Prapto. Bukan Prapto sebenarnya, tapi Soeprapto. Saya lebih senang menyebutnya”Prapto” daripada Soeprapto. Soeprapto itu adalah nama sebuah jalan yang terletak di mainroad kota Bengkulu. Kenapa disebut jalan Soeprapto? Karena untuk mengenang sang Gubernur Bengkulu. Ya, gubernur Bengkulu pertama kali dipimpin oleh Soeprapto. Beliau orang Jawa. Itu pun baru katanya. Baru info sepihak.Karena saya pun belum banyak tahu tentang sejarah Bengkulu dari masa awal penjajahan sampai sekarang. Meskipun, sebenarnya, saya lahir di sana. Barangkali Anda tahu? Boleh berbagi. Atau memang Anda agak-agak tidak tahu? Berarti, kita wajib belajar lagi. Saya pun teringat ungkapan Bung Karno yang selalu menjadi semangat sebagai anak bangsa,”Jangan pernah lupakan Jas Merah!” Itu artinya, menurut hemat saya, “Jangan pernah melupakan sejarah!” Dari sejarah lah, kita akan mendapat informasi tentang bagaimana ajaran hidup yang tersembunyi lainnya. Maaf, kalau tiba-tiba saya menjadi pengajar sejarah dadakan di sini. Cie..cie

Baca entri selengkapnya »

Mimpi Ke-3

Baiklah, dengan ingatan yang minim, meski saya belum sempat cuci muka, saya langsung menghidupkan emachines saya. Dengan harapan, apapun mimpi saya tadi malam, mudah-mudahan tidak cepat hilang.

Kali ini, kejadiannya berada di rumah kakakku, di Bengkulu. Di rumah itu, saya melihat ada istri kakak saya, Fifi, saya, dan Ari. Siang itu, Fifi mau belajar menulis. Dan secara kebetulan, saya yang akan menjadi pengajarnya. Di samping Fifi, duduk seseorang sambil mengenakan kain Sarung dan pakai baju pendek selengan. Ternyata, laki-laki bersarung itu adalah ayah Fifi. Ketika itu, ayah Fifi itu langsung mendiktekan beberapa kata dan selanjutnya ditulis oleh anaknya, Fifi. Katanya,” Ini Budi, tulis,Fi,” Perintahnya. Kemudian, Fifi pun menulis apa yang telah disebutkan ayahnya itu.

Baca entri selengkapnya »

Mimpi Ke-2

Entah suara dari mana, tiba-tiba saja ada yang berkata,”Nanti, bila SBY menang jadi presiden, yang akan jadi menteri Komunikasi Informasi adalah saudara Rizal Mallarangeng”. Secara spontan juga, ternyata ada yang menimpali kalimat di atas. Yang menimpali atau menjawab itu datang dari salah seorang fungsionaris PKS. Entah siapa namanya. Dari perawakannya, agak gendut, berjenggot agak keputihan, dan sambil senyum. Bertengger di kepalanya peci warna. Tak begitu jelas apa warnanya. Dilihat dari umur, kira-kira 45 tahunan.

Baca entri selengkapnya »

Mimpi Ke-1

Tiba-tiba saya bertemu dengan salah satu teman saya. Dia teman satu kuliah. Namanya Ihsan. Perawakannya tinggi kurus serta memakai Kacamata. Teman-teman satu kelasnya sering menyebut si-HTI. Karena memang, Ihsan seorang aktivis Hizbul Attahrir Indonesia, wilayah Bandung. Ia juga aktif di organisasi yang ada di kampus. LSPI kalau tidak salah. Lebih panjangnya, Lembaga Studi politik Islam. Organisasi itu, ideologinya lebih dekat dengan HTI. Yang saya tahu, saya sering membaca selebaran LSPI yang sering ditempel di mading kampus. Isinya, memang tidak jauh dari ajakan pada penegakan syariat islam di Indonesia. Dan sering pula, dalam tulisan-tulisannya, menyebut bahwa, pendidikan kita, pendidikan Indonesia, disebut sebagai, atau menganut sistem kapitalisme. Saya pun sedikit tahu, bahwa mereka, para aktivis HTI itu, terutama dalam pemilu, mereka pasti tidak memilih. Alias golput.

Baca entri selengkapnya »

Sehelai Rambut Dan Sandal Yang Raib

Satu Minggu yang lalu tepatnya. Saya dan seorang teman melaju menuju kampus tercinta, UIN Bandung. Karena merasa kita belum sarapan pagi, kami memutuskan untuk rehat sejenak di PUJASERA (Pusat Jajanan Serba Ada). Di sana pun kami memilih Kantin yang kira-kira memang langganan kami sebelumnya. Ya, kantin Gado-gado biasa kami menyebutnya. Kami pun memesan makanan kesukaan kami. Saya lebih memesan Lontong Kari, sedangkan teman saya memesan Gado-gado kesukaannya.

Baca entri selengkapnya »

Awan Hitam Di Pesantren

Suasana di kota santri memang sangat menakjubkan sekaligus mengharukan. Disebut menakjubkan, karena hampir sebagian santrinya, ketika hendak tidur, mereka (terutama yang cewek), tidak mengenakan kain sehelai pun. Kecuali BH yang menutupi dua puting payudaranya. Menurut ustadzah yang bertanggung jawab mengurus asrama putri, sebut saja ibu Ida. Bahwa, para santriwati tidak mengenakan sehelai lembar pun ketika tidur (kecuali BH), karena pengaruh cuaca di sekitar pesantren. Kalau tetap dipakai, maka seisi pesantren akan mengalami banjir. Banjir itu berasal dari keringat para santriwati. Oleh karena itulah, dengan kebijakan Mudir pesantren dan atas izin Menteri agama, maka untuk selamanya, selagi belum kiamat, para santriwati dibiarkan tidur telanjang. Termasuk para ustadzah-ustadzahnya.

Baca entri selengkapnya »

Older entries »